
Pak Satimin adalah pedagang ikan gesek di ujung Sumatera. Ia merantau ke Sumatera sejak zaman Orde Baru, ketika tubuhnya masih gagah-gagahnya dan rambutnya belum banyak mengenal uban. Puluhan tahun hidup di tanah rantau ternyata tidak mampu menghapus satu hal dari dirinya: logat Jawa Tegal yang medok. “Wis mangan durung?” “Pan maring endi?” Begitulah bahasa yang tetap setia menemani kesehariannya.
Bukan karena Pak Satimin tidak bisa beradaptasi. Justru lingkungan tempat tinggalnya juga tidak pernah benar-benar melepaskan bahasa Jawa. Di tanah rantau itu, bahasa ibu tetap hidup dalam percakapan sehari-hari. Jawa tetap menjadi rumah, meskipun jaraknya ribuan kilometer dari kampung halaman. Ucap Soleh Sofyan, LD PBNU
Ada hal menarik dari rumah Pak Satimin. Rumahnya sederhana, separuh papan. Tetapi dindingnya seperti galeri kecil kenangan. Terpampang foto para ulama NU, terutama Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Tidak ketinggalan lambang bola dunia bertuliskan NU dalam huruf Arab.
Bagi Pak Satimin, NU bukan sekadar organisasi. NU adalah identitas keagamaannya, warisan dari kakek dan mbahnya sejak ia kecil. Sesuatu yang ikut dibawa merantau dan mungkin sudah melekat sejak ia belum mengenal kata “organisasi”. NU sejak dalam kandungan.
Ketika ditanya apa yang paling membuatnya rindu Jawa, jawabannya sederhana, “Ya kampung halaman… sama suasana NU-nya, zikir, sholawatan, tahlilan, marhabanan.”
Bagi sebagian orang, mungkin itu terdengar biasa. Namun bagi Satimin, itu adalah suara masa kecil. Untuk mengobati rasa rindu, ia merawat mushala kecil dekat rumahnya dengan tradisi NU. Di sana ia menemukan kembali aroma kampung halaman yang tertinggal jauh di tanah Jawa.
Karena itu, bagi Pak Satimin ada tiga Lebaran dalam hidupnya. Pertama Idul Fitri, kedua Idul Adha, dan yang ketiga adalah Muktamar NU.
Bagi sebagian orang, Muktamar adalah forum organisasi yang penuh sidang, tata tertib, perdebatan, tarik-menarik kepentingan dan perebutan kepemimpinan. Tetapi bagi Pak Satimin, Muktamar adalah hari raya. Ada keramaian, ada kiai, ada santri, ada pedagang, ada saudara-saudara sesama nahdliyin. Hari ketika ia bisa bertemu kembali dengan suasana pesantren, mendengar bahasa Jawa, dan merasakan denyut kampung halaman.
Sudah sekitar 15 tahun Pak Satimin selalu hadir menjadi salah satu dari jutaan “Romli” yang datang dengan biaya sendiri, semangat sendiri dan kadang bekal seadanya. Tidurnya pun sembarang, bisa di mushala atau masjid tempat peziarahan Wali Songo. Yang penting hadir. Yang penting bertemu NU.
Kali ini Muktamar Tambakberas kembali memanggilnya. Dengan berbekal Avanza tahun 2017 warna metalik yang sudah ditempeli stiker NU, Satimin mengajak beberapa pengurus NU desa menuju Jombang. Mobilnya mungkin bukan mobil baru, tetapi semangat penumpangnya selalu baru.
Sepanjang perjalanan, obrolan berganti-ganti. Kadang serius membahas NU, calon pemimpin dan masa depan jam’iyah. Kadang membicarakan isu yang beredar di media sosial yang bikin wajah pak satimin terlihat sedikit risau, Namun lebih sering bicara sederhana canda tawa seputar perjalanan.
Dalam perjalanan Pak Satimin sesekali melihat foto Mbah Hasyim di telepon genggamnya. Ia tersenyum.
“Yang penting sampai Jombang,” katanya.
“Mau ketemu siapa, Pak?”
Satimin menjawab ringan, “Ya ketemu NU.”
Kalimat itu sederhana, tetapi mungkin itulah inti perjalanan Pak Satimin. Ia tidak datang membawa ambisi jabatan. Tidak membawa koper penuh proposal. Tidak pula datang untuk mencari keuntungan. Ia datang sebagai seorang nahdliyin biasa yang ingin menyaksikan sejarah.
Dan mungkin, di antara ribuan kendaraan yang menuju Jombang, ada banyak Satimin-Satimin lainnya. Mereka datang dari desa, pesantren, pasar dan pelosok pulau. Dengan kendaraan tua, bus sewaan, kereta api, bahkan dengan ongkos yang dikumpulkan sedikit demi sedikit.
Mereka tidak banyak bicara tentang kekuasaan. Mereka hanya ingin satu: NU tetap menjadi rumah yang membuat mereka merasa pulang.
Ketika Avanza 2017 itu akhirnya memasuki tanah Jombang, Pak Satimin tersenyum lebar.
“Alhamdulillah…”
Temannya bertanya, “Senang, Pak?”
Satimin mengangguk. “Senang. Lebaran ketiga saya akhirnya tiba.”
Ia memandang suasana Tambakberas. Melihat santri, kiai, bendera NU dan mendengar orang-orang berbicara dengan logat Jawa. Matanya sedikit berkaca-kaca. Entah karena haru atau karena debu perjalanan.
Di tengah suasana itu, seorang teman bertanya, “Pak Satimin, njenengan ke Muktamar mau memilih siapa?”
Pak Satimin terdiam sebentar.
“Memilih siapa?”
“Iya, calon pemimpin.”
Satimin tersenyum.
“Lah, saya datang bukan mau mencari pemimpin.”
Temannya heran. “Terus mau apa?”
Satimin menunjuk lambang NU yang terpampang di sekitar arena Muktamar.
“Saya cuma mau memastikan kalau NU itu masih milik rakyat jelata seperti saya, NU yang dulu saya kenal semasa kecil, NU milik orang-orang yang rela datang dari jauh, tidur di masjid, ngopi pakai uang sendiri, lalu pulang lagi ke kampung tanpa membawa apa-apa selain rasa bangga menjadi nahdliyin.”
Suasana sempat hening.
Lalu Pak Satimin tertawa kecil.
“Kalau pemimpinnya lupa sama orang seperti kita?”
“gampang.”
“Caranya?”
“Saya datang lagi di Muktamar berikutnya.”
Semua tertawa…
Dan ketika Muktamar selesai, para pemimpin mungkin pulang membawa hasil sidang. Pak Satimin pulang membawa stiker baru NU yang dia tempel di kaca Avanzanya dan poster Mbah Hasyim terbaru yang akan dia pajang di dinding rumahnya.